Showing posts with label BRI. Show all posts
Showing posts with label BRI. Show all posts

Friday, March 14, 2008

Tiga Bank Biayai Jalan Lingkar Bogor

Jumat, 14 Maret 2008 | 15:38 WIB
Kompas.com

JAKARTA, JUMAT - Bank Mandiri, BNI dan BRI mendukung pembiayaan bersama pembangunan jalan tol Lingkar Bogor (Bogor Ring Road) sepanjang 11 kilometer yang dibangun PT.Jasa Marga Tbk dengan nilai investasi termasuk tanah Rp1,6 triliun. Direktur Bank Mandiri, Riswinandi di Bogor dalam keterangan pers Jumat (14/3), seperti dikutip dari Antara, menyatakan, dari investasi senilai Rp1,6 triliun itu sekitar 70 persen atau senilai Rp1,13 triliun pembangunan jlan tol Bogor Ring Road dibiayai oleh ketiga bank BUMN itu.Bank Mandiri sendiri mengeluarkan dana sebesar Rp450,68 miliar, BNI sebanyak Rp394,35 miiar dan Bank BRI senilai Rp281,68 miliar, sedangkan dari Jasa Marga sebanyak Rp480 miliar, katanya.Riswinandi mengatakan, Bank Mandiri dalam hal ini telah membiayai 12 proyek jalan tol dengan total nilai proyek mencapai Rp21,75 triliun dan porsi pembiayaan Bank Mandiri mencapai Rp10,30 triliun untuk proyek jalan Tol Trans Jaya maupun Tol Non-Trans Java. Hal ini telah menjadi komitmen perseroan untuk senantiasa mendukung proyek infrastruktur termasuk pembangunan jalan tol di Indonesia, katanya.

Menurut dia, Bank Mandiri sebagai lead manager dalam proyek ini telah mengambil porsi sebesar 40 persen dan akan terus mendukung proyek-proyek pengembangan infrastruktur sesuai program pemerintah dengan tetap memperhatikan aspek bisnis yang menguntungkan. Ia mengatakan, Jalan Tol Bogor Ring Road rencananya akan dibangun antara Sentul Selatan sampai dengan Dermaga sepanjang 11 km yang terdiri atas tiga seksi, namun Jasa Marga mengusulkan untuk membangun jalan tersebut yang terdiri dari dua seksi.Karena volume lalu lintas antara Yasmin-Dermaga sangat padat, sedangkan kondisi lapangan sepanjang koridor jalan sudah sangat padat mengharus dibangunnya kontruksi elevated yang membutuhkan biaya konstruksi tinggi, ucapnya.

Sunday, March 9, 2008

BRI Luncurkan BritAma Syariah

19 Januari 2008

www.bri.co.id

Bersamaan dengan diadakannya Festival Ekonomi Syariah (FES) di JCC, Bank BRI Syariah meluncurkan produk simpanan berkartu dengan nama Tabungan BritAma Syariah, peluncuran ini dilakukan oleh Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto dan Ramzi A. Zuhdi, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia.

Sebagai bank yang telah berpengalaman dan termasuk bank yang cukup diperhitungkan dalam industri perbankan, keputusan BRI untuk memasuki bisnis perbankan berdasarkan prinsip syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah BRI (selanjutnya disebut BRI Syariah) sejak tanggal 7 Desember 2001 merupakan langkah untuk mendapatkan “competitive advantages” atas produk perbankan Syariah yang berazaskan keadilan dan keterbukaan, sehingga mempunyai tingkat akuntabilitas yang tinggi.

Keputusan BRI tersebut bukan saja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabahnya yang selalu tumbuh dan berkembang, tetapi juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab BRI untuk memajukan kondisi perekonomian rakyat. Tanggung jawab untuk memajukan perekonomian rakyat ini sejalan dengan semangat Patih Banyumas; Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada saat mendirikan BRI pada tahun 1895, yaitu untuk dapat memberikan pinjaman ringan guna menepis jeratan lintah darat, diilhami oleh pengalamannya dalam mengelola pinjaman yang bersumber dari kas masjid.

Sampai dengan akhir tahun 2007 BRI Syariah telah memiliki 27 Kantor Cabang BRI Syariah dan 18 Kantor Cabang Pembantu BRI Syariah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan fokus dari pengembangan outlet/jaringan kerja BRI Syariah di masa depan adalah dengan cara sinergi jaringan dengan BRI Konvensional melalui pola layanan office channeling di seluruh unit kerja operasional BRI yang potensial untuk dibuka bisnis Syariah.

Pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia 5 tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata 59%. Pertumbuhan tersebut masih jauh di atas pertumbuhan industri perbankan konvensional yang tidak melebihi angka 5% per tahun.

Berdasarkan statistik perbankan Syariah posisi bulan November 2007, Perbankan Syariah telah mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp. 26,548 trilyun, sedangkan dana pihak ketiga yang dihimpun sebesar Rp. 25,658 trilyun, sehingga Financing to Deposit Ratio (FDR) mencapai sebesar 103,47 %. Untuk Unit-unit Usaha Syariah, rasio FDR jauh lebih tinggi, yaitu sebesar 126 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa Perbankan Syariah telah bekerja keras untuk menggerakkan sektor riil.

Dalam rangka meningkatkan dana pihak ketiga untuk mensuport penyediaan dana pembiayaan, Bank Rakyat Indonesia melakukan soft launching Tabungan Britama Syariah. Tabungan Britama Syariah adalah produk tabungan yang dikelola dengan prinsip Wadiah. Tabungan Britama Syariah dilengkapi dengan Kartu ATM, yang dapat dipergunakan di lebih dari 1.000 ATM BRI di seluruh Indonesia. Tabungan Britama Syariah akan terus dikembangkan agar memiliki fasilitas yang setara dengan Tabungan Britama yang telah dimiliki BRI, namun dikelola dengan prinsip Syariah, dan dapat dilayani di seluruh unit kerja BRI yang berjumlah lebih dari 4.000 kantor. Perbedaan utama antara Tabungan Britama Syariah dengan Tabungan Britama adalah Tabungan Britama Syariah dikelola berdasar prinsip syariah, sehingga nasabah memiliki banyak pilihan untuk alokasi simpanannya.


Wednesday, March 5, 2008

BRI Kaji Dana untuk Call Options Subdebt US$ 150 Juta

BRI Kaji Dana untuk Call Options Subdebt US$ 150 Juta
Wahyu Daniel - detikfinance
05/02/08

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) akan menyiapkan dana untuk obligasi subdebt senilai US$ 150 juta yang jatuh tempo Oktober 2008.

Obligasi subdebt itu diterbitkan tahun 2003 dengan tenor 10 tahun dan call option (opsi beli) pada Oktober 2008. Penerbitan subdebt kala itu untuk menambah modal (CAR) perseroan.

"Kita belum tahu apakah nanti membayarnya melalui cash atau menerbitkan subdebt lagi," kata Sekretaris Perusahaan BRI, Harsono Sukiman usai acara CEO Forum di Hotel Mid Plaza, Jakarta, Rabu (5/3/2008).

Sebenarnya jika pembayarannya melalui cash, kata Harsono, bisa dilakukan karena sampai 2009 CAR BRI masih aman sekitar 14%. "Tapi kan gak bisa terus-terusan begitu," cetusnya.

Jika menerbitkan lagi subdebt, lanjut Harsono, dananya bisa juga untuk akuisisi. "Tapi itu masih kita perhitungkan apakah kita menggunakan subdebt atau cash untuk call options dulu. Jadi masih kita hitung dilihat caranya sebagai bank jangkar apakah masih bisa," jelasnya.

Mengenai rencana penerbitan obligasi Rp 1 triliun, menurut Harsono itu masih wacana. "Itu semua nanti kita putuskan minggu depan," ujarnya.

Saat ini, menurut Harsono modal perseroan mencapai Rp 18 triliun, "Ini juga bisa digunakan untuk mengakuisisi bank," katanya.