Showing posts with label Strategi. Show all posts
Showing posts with label Strategi. Show all posts

Friday, March 14, 2008

BNI cari mitra kembangkan multifinance

14 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk tengah mencari mitra strategis untuk menjual sebagian saham PT BNI Multifinance guna peningkatan bisnis di sektor pembiayaan. Dirut Bank BNI Tbk Gatot Suwondo mengatakan hal itu dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan bisnis pembiayaan oleh BNI Multifinance untuk kepemilikan sepeda motor ataupun mobil. Bank tersebut memiliki 99% saham lembaga keuangan itu. "Kami masih mencari mitra strategis, sekarang masih berhitung. Yang diperlukan adalah memiliki keahlian dan tentu saja punya uang," ujar Gatot kepada pers di Jakarta, kemarin. Dia mengatakan saat ini masih dilakukan kalkulasi berapa jumlah saham yang akan dilepas bank tersebut di BNI Multifinance. Gatot juga belum dapat memperkirakan kapan proses itu akan dilaksanakan. Selain BNI Multifinance, Gatot menuturkan bank itu juga berencana untuk mencari mitra strategis bagi anak usaha lainnya, seperti PT BNI Life Insurance dan PT BNI Sekuritas. Pada tahun lalu, Bank BNI memberikan suntikan modal sebesar US$20 juta guna memperkuat struktur permodalan. BNI Multifinance dulu dikenal dengan nama PT Swa Dharma Multifinance pada 1983 yang dimiliki Bank BNI dan American Express Leasing Corporation.

Gatot menuturkan pada tahun ini BNI akan memfokuskan penyaluran kredit di sektor perumahan dibandingkan dengan pembiayaan produk otomotif. "Jadi untuk auto-loan, akan diambil oleh BNI Multifinance," paparnya. Rencana aksi untuk membeli multifinance sudah bermunculan pada tahun lalu. PT Bank Mandiri Tbk kini masih menyeleksi sekitar lima perusahaan pembiayaan untuk memperkuat sektor konsumennya. Sejumlah BPD juga tertarik� dengan untuk membeli multifinance terkait peningkatan kreditnya di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia sebelumnya mengatakan saat ini lebih dari lima bank sudah melakukan penjajakan terhadap beberapa perusahaan pembiayaan. Dia menuturkan biasanya perusahaan pembiayaan yang cenderung diakuisisi adalah perusahaan dengan aset di atas Rp500 miliar dan di bawah Rp1 triliun. Sementara itu, multifinance beraset di atas Rp1 triliun biasanya memiliki pemegang saham cukup solid. Sinergi yang dilakukan perusahaan pembiayaan-sebagai anak usaha perbankan-sudah dilakukan PT Niaga Finance yang dulunya dikenal sebagai PT Saseka Gelora Finance sejak 1 Januari 2008. Perusahaan itu dimiliki oleh PT Bank Niaga Tbk. Saseka Gelora Finance telah melakukan integrasi dengan PT Bank Niaga Tbk, sebagai pemegang saham dominan guna melakukan ekspansi pembiayaan di sektor otomotif, terutama mobil. Melalui kerja sama itu, Bank Niaga tidak hanya melayani sektor individual dalam pemberian kredit mobil melalui customer banking, tetapi juga pelayanan kolektif bagi korporasi, tidak hanya membiayai mobil pribadi, tetapi juga kebutuhan produksi.

BCA kembali gelar Gebyar Tahapan

14 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Bank Central Asia (BCA) kembali menggelar program Gebyar Tahapan BCA periode Maret-Juni 2008. Program tersebut kali ini memasuki tahun ke-19. General Manager Consumer Banking Stephen Listyo mengungkapkan para nasabah yang mengikuti tahapan kali ini adalah nasabah yang memiliki saldo rata-rata Rp5 juta per bulan. Setiap orang akan memiliki satu poin dengan saldo minimal tersebut. "Atas kepercayaannya kepada nasabah, para nasabah tidak hanya mendapat fasilitas pelayanan perbankan yang premium, tetapi juga berhak untuk mendapatkan kesempatan hadiah premium," ujar Stephen pekan ini. Hadiah utama yang disediakan kali ini adalah satu unit Lexus LS 460, sedangkan lainnya adalah belasan Lexus IS 300 dan ribuan televisi. (Bisnis/asa)

Tiga Bank Biayai Jalan Lingkar Bogor

Jumat, 14 Maret 2008 | 15:38 WIB
Kompas.com

JAKARTA, JUMAT - Bank Mandiri, BNI dan BRI mendukung pembiayaan bersama pembangunan jalan tol Lingkar Bogor (Bogor Ring Road) sepanjang 11 kilometer yang dibangun PT.Jasa Marga Tbk dengan nilai investasi termasuk tanah Rp1,6 triliun. Direktur Bank Mandiri, Riswinandi di Bogor dalam keterangan pers Jumat (14/3), seperti dikutip dari Antara, menyatakan, dari investasi senilai Rp1,6 triliun itu sekitar 70 persen atau senilai Rp1,13 triliun pembangunan jlan tol Bogor Ring Road dibiayai oleh ketiga bank BUMN itu.Bank Mandiri sendiri mengeluarkan dana sebesar Rp450,68 miliar, BNI sebanyak Rp394,35 miiar dan Bank BRI senilai Rp281,68 miliar, sedangkan dari Jasa Marga sebanyak Rp480 miliar, katanya.Riswinandi mengatakan, Bank Mandiri dalam hal ini telah membiayai 12 proyek jalan tol dengan total nilai proyek mencapai Rp21,75 triliun dan porsi pembiayaan Bank Mandiri mencapai Rp10,30 triliun untuk proyek jalan Tol Trans Jaya maupun Tol Non-Trans Java. Hal ini telah menjadi komitmen perseroan untuk senantiasa mendukung proyek infrastruktur termasuk pembangunan jalan tol di Indonesia, katanya.

Menurut dia, Bank Mandiri sebagai lead manager dalam proyek ini telah mengambil porsi sebesar 40 persen dan akan terus mendukung proyek-proyek pengembangan infrastruktur sesuai program pemerintah dengan tetap memperhatikan aspek bisnis yang menguntungkan. Ia mengatakan, Jalan Tol Bogor Ring Road rencananya akan dibangun antara Sentul Selatan sampai dengan Dermaga sepanjang 11 km yang terdiri atas tiga seksi, namun Jasa Marga mengusulkan untuk membangun jalan tersebut yang terdiri dari dua seksi.Karena volume lalu lintas antara Yasmin-Dermaga sangat padat, sedangkan kondisi lapangan sepanjang koridor jalan sudah sangat padat mengharus dibangunnya kontruksi elevated yang membutuhkan biaya konstruksi tinggi, ucapnya.

Thursday, March 13, 2008

Lepas BTPN, Raup Rp 767 Miliar

13 Maret 2008
Indo Pos

JAKARTA - Pemerintah meraup dana Rp 767,3 miliar dari hasil initial public offering (IPO) PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Dana hasil penjualan 28,39 persen saham itu langsung kepada pemerintah melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).
Selain IPO, BTPN juga segera melakukan aksi korporasi. Yaitu akuisisi 71,61 persen saham oleh Texas Pacific Group (TPG) Nusantara. Proses akuisisi tersebut diprediksi rampung pekan ini."Nilai akuisi ini mencapai USD 195 juta," ujar Direktur Utama BTPN Paulus Wiranata di Jakarta kemarin (12/3). Kata Paulus, proses akuisisi tersebut berjalan di antara para pemilik saham sendiri. Manajemen, tidak terlibat intensif. "Hanya saja nanti kalau semua deal dan saat pencatatan, pasti manajemen ikut," ujarnya. Rencananya, 71,61 persen saham yang didivestasi adalah milik PT Recapital Advisors (22,61 persen), pengusaha Fuad Hasan (20 persen), Bakrie Capital (10 persen), dan Danatama Makmur (19 persen). Tahun ini, kata Paulus, BTPN bakal lebih ekspansif. "Kita menargetkan penyaluran kredit akan mencapai Rp 3 triliun," ujar Paulus. Tanpa tambahan modal pun, BTPN sudah bisa lebih ekspansif. Sebab, capital adequacy ratio (CAR) mereka masih 24 persen. Padahal, syarat minimun dari BI hanya 8 persen. Dengan melantai di bursa, ekspansi tersebut bakal lebih mudah. Komisaris Utama BTPN Dorodjatun Kuntjorojakti menambahkan, aksi korporasi perseroan tahun ini masih fokus pada nasabah pensiunan, baik TNI, Polri, maupun PNS. Layanan itu bakal dikembangkan tidak hanya dalam bentuk penyaluran uang pensiunan. "Kami juga akan serius di pengembangan bisnis syariah," tutur mantan Menko Perekonomian itu. Saat ini, satu unit usaha syariah BTPN sudah dibuka di Bandung. Tahun ini direncanakan akan buka di Jakarta.

Dalam laporan keuangan per September 2007, BTPN membukukan laba bersih Rp 244,67 miliar dengan total aset Rp 9,34 triliun. Performa kredit bermasalah (non performing loan, NPL) BTPN sekitar dua persen, dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio, LDR) sebesar 89 persen. Sayangnya, meskipun indeks saham di BEI (Bursa Efek Indonesia) naik kemarin (12/3), saham BTPN ditutup melemah. Dari posisi di pasar primer Rp 2.850, pada akhir perdagangan di pasar sekunder saham BTPN ditutup Rp 2.775.(eri/fan)

BTN akan tawarkan obligasi Rp1 triliun

Kamis, 13/03/2008
Bisnis.com

JAKARTA: BTN berencana masuk ke pasar pada akhir Mei atau Juni untuk menawarkan obligasi senilai Rp1 triliun.
“Kami akan menggunakan laporan keuangan per Desember untuk penerbitan obligasi. Kick off meeting penerbitan obligasi sudah dimulai dan kalau situasi pasar bagus, BTN akan masuk menawarkan surat utang pada Mei atau Juni," ujar Direktur BTN Saut Pardede kepada Bisnis, sore ini.
Dia mengatakan perseroan telah menunjuk PT Trimegah Securities Tbk, PT Mandiri Sekuritas dan PT Danareksa Sekuritas untuk menjadi penjamin pelaksana emisi obligasi perseroan. Tiga perusahaan sekuritas lain yang ikut dalam tender namun tidak ditunjuk adalah PT Bahana Securities, PT Mega Capital dan, PT DBS Securities Indonesia. Menurut rencana, BTN akan mengalokasikan dana hasil emisi obligasi sebesar Rp1 triliun pada 2008 untuk membayar kembali surat utangnya yang jatuh tempo senilai Rp800 miliar. (dj)

Mandala-BNI Jajaki Kerjasama Agen Travel UKM

Kamis, 13/03/2008 16:10 WIB
detikfinance

Jakarta - PT Mandala Airlines dan PT BNI Tbk jajaki kerjasama mutualisme berupa pembiayaan di sektor UKM khusus untuk agen travel."Bentuk kerjasama ini adalah BNI memberikan pembiayaan di sektor UKM yang siap menjadi travel agent Mandala," ujar Corporate Communications Mandala, Trisia Megawati.Penandatangan kerjasama tersebut telah dilangsungkan hari ini (13/3/2008), di gedung BNI, Jl Jend Sudirman Jakarta."Bentuk persisnya kerjasama ini masih dalam pembicaraan kita dengan BNI," ujar Trisia.Kerjasama tersebut terkait dengan rencana Mandala menambah jumlah agen travelnya, dari saat ini sebanyak 3 ribu unit, menjadi 4 ribu hingga bulan Juli mendatang."Memang mungkin tidak semua penambahan 1000 agen travel itu dari kerjasama dengan BNI. Namun, kerjasama tersebut salah satu strategi kita dalam rencana penambahan agen," ulas Trisia.Selain kerjasama di atas, Mandala dan BNI juga melakukan kerjasama di bidang internet banking."Dalam kerjasama ini, nasabah BNI bisa membeli tiket Mandala melalui sistem internet banking yang kita punya," ujar Corporate Secretary BNI, Intan Abdams Katoppo.

BNI Segera Luncurkan Micro Payment

Kamis, 13/03/2008 17:00 WIB
detikfinance

Jakarta - PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI) berencana meluncurkan produk terbarunya bernama Micro Payment paling lambat di kuartal II 2008."Produk Micro Payment rencananya akan diluncurkan paling lambat kuartal II 2008," ungkap Corporate Secretary BNI, Intan Abdams Katoppo, Kamis (13/3/2008).Micro Payment, jelas Intan, adalah sejenis kartu debit yang bisa diisi ulang. "Jadi kartu itu bisa digunakan untuk belanja, tapi bisa diisi ulang melalui ATM," ujar Intan.Untuk tahap awal target pasarnya adalah nasabah BNI. Namun Intan mengatakan tidak tertutup kemungkinan nantinya bisa digunakan tidak hanya oleh nasabah BNI.BNI juga sedang menjajaki sistem pembayaran listrik melalui SMS Banking. "Ini masih dalam tahap penjajakan, tapi kita sedang mengarah kesana," ujar Intan.Rencana kerja BNI lainnya adalah relokasi kantor cabang. Saat ini kantor cabang BNI sebanyak 972 unit."Rencananya secara bertahap kita akan melakukan relokasi kantor-kantor cabang yang kita anggap perlu. Jumlahnya up to 10% dari total cabang, tapi kan secara bertahap," ulas Intan. (dro/qom)

Wednesday, March 12, 2008

Gebyar Tahapan BCA digelar kembali

12 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA (Bisnis): PT Bank Central Asia (BCA) kembali menggelar program Gebyar Tahapan BCA periode Maret - Juni 2008, yang telah memasuki tahun ke-19.

General Manager Consumer Banking Stephen Listyo mengungkapkan para nasabah yang mengikuti tahapan kali ini adalah nasabah yang memiliki saldo rata-rata Rp5 juta per bulan. Setiap orang akan memiliki satu poin dengan saldo minimal tersebut.

“Atas kepercayaannya pada nasabah, para nasabah tidak hanya mendapat fasilitas pelayanan perbankan yang premium namun juga berhak untuk mendapatkan kesempatan hadiah premium,” ujar Stephen dalam peluncuran Gebyar Tahapan BCA, siang ini.

Hadiah utama yang disediakan kali ini adalah satu unit Lexus LS 460. Hadiah lainnya adalah belasan Lexus IS 300 dan ribuan televisi LCD Polytron. Pengundian hadiah akan dilakukan pada setiap Sabtu dalam acara Gebyar BCA di Indosiar.(er)

Kartu kredit Niaga dominasi Giant

12 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Mayoritas pemenang undian kejutan tahun baru Giant Hypermarket merupakan para pelanggan yang melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit Bank Niaga.

Menurut Lynna A. Muliawan, Executive Vice President, Head of Card & Preferred Circle Bank Niaga Dari 1.031 hadiah yang tersedia, 529 pemenang merupakan cardholder bank yang dikelolanya. Salah satunya bahkan memenangkan hadiah utama 1 unit Nissan Grand Livina, 14 pemenang hadiah kedua berupa Motor Yamaha Vega, dan 514 hadiah hiburan voucher belanja.

Menurut dia, dominasi tersebut tak lepas dari kupon yang diperoleh jika transaksi menggunakan kartu kredit Bank Niaga memperoleh tiga kupon undian. Jika belanja dengan uang tunai hanya mendapatkan satu kupon.

"Dengan demikian, cardholder mendapat kesempatan untuk memenangkan hadiah tiga kali lebih besar dengan Niaga Credit Card," kata Lynna dalam siaran persnya, kemarin. (Bisnis/htr)

Bank Lippo akan Buka 130 Office Channelling Syariah

5 Desember 2007
detikfinance

Jakarta - Bank Lippo menargetkan membuka 130 office channelling di lima kantor cabang
syariahnya (KCS) pada 2008.

"Totalnya tahun depan kita punya lima KCS di Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Semarang," kata Group Head Unit Usaha Syariah Lippo Bank Dradjat Tjahyono disela-sela peresmian LB Salam di Menara Sudirman, Jakarta, Rabu (5/12/2007).

Rinciannya, sampai akhir Desember ini 3 OC dibuka di Jakarta yaitu di Tanggerang, Gatot Subroto dan Jl Sudirman. Pada 2008 rencananya membuka 60 OC lagi di Jakarta.

Rencananya pembiayaan LB Salam bisa mencapai Rp 20 miliar dan dana pihak ketiga sebesar Rp 10 miliar.

Sementara untuk tahun depan, dengan asumsi berhasil membuka 5 KCS, aset syariah LB bisa mencapai sekitar Rp 300 miliar dan pembiayaan sebesar Rp 200-250 miliar yang 30% untuk pembiayaan consumer, sisanya komersial.

"Itu kalau rencananya lancar," jelasnya.

LB Salam juga sedang dalam penjajakan dengan beberapa multifinance untuk
bekerjasama. "Kalau bisa masuk dua, sudah bagus," katanya.

Mengenai target BI soal aset syariah 5% dari aset bank nasional, Dradjat mengaku pesimis bisa mencapai itu di akhir 2008. "Kita akan usaha, tapi 1% saja sepertinya belum," lanjutnya.

Modal awal LB Salam tahun ini adalah seebsar Rp 5 miliar dan akan bertambah sesuai perkembangan bisnis. Dimana investasi untuk IT mengambil porsi cukup besar, sekitar US$ 600 ribu

Bank Lippo Targetkan KPR-KPA Hingga Rp 4,6 T di 2008

15 Februari 2008
detikfinance

Jakarta - Bank Lippo menargetkan pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) antara Rp 4,1-4,6 triliun pada tahun 2008.

Hal tersebut disampaikan Head of Consumer Banking Lippo, Suhaimin Johan, disela-sela penandatanganan kerjasama kredit di kantor pemasaran Kemang Village, Jl P Antasari, Jakarta, Jumat (15/2/2008).

"Untuk KPR-KPA, di 2007 sebesar Rp 2,6 triliun. Tahun ini kita menargetkan tumbuh Rp 1,5-2 triliun, atau total KPR-KPA kita di 2008 akan menjadi Rp 4,1-4,6 triliun," ulas Suhaimin.

Dalam portofolio kredit Bank Lippo, KPR mengambil porsi 55% dari porsi kredit konsumsi. "Fokus KPR kita di 2008 tetap 85% di residensial dan sisanya KPA," ujar Suhaimin.

Bank Lippo bekerjasama untuk memberikan kredit murah bagi kepemilikan apartemen kelompok usahanya. Tingkat suku bunga untuk KPA Kemang Village hanya 5,99%.

"Kita berikan paket spesial dalam kerjasama ini, yaitu bunga 5,99% hingga Maret mendatang. Tingkat suku bunga KPA Bank Lippo biasanya sebesar 9,6%," ujar Suhaimin.

Melalui kerjasama ini, Bank Lippo menargetkan mampu melakukan pembiayaan KPA sebesar Rp 100 miliar hingga Maret 2008.

"Kerjasama ini salah satu strategi untuk menumbuhkan portofolio kredit kita di 2008," ujar Suhaimin.

Pada tahun 2007, total pembiayaan kredit Bank Lippo sebesar Rp 18 triliun, tumbuh 55% dari tahun 2006 yang sebesar Rp 12 triliun. Komposisi penyaluran kredit Bank Lippo adalah di sektor UKM sebesar 40%, kredit konsumsi 26% dan sisanya kredit korporasi.

Kemang Village Targetkan Pre-Sales Rp 1 Triliun di 2008

Pre-Sales atau penjualan proyek Kemang Village milik PT Lippo Karawaci Tbk ditargetkan mampu mencapai Rp 1 triliun di 2008.

"Untuk 3 tower yang akan kita launch tahun ini, target pre-sales kita sebesar Rp 1 triliun," ujar Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Jopy Rusli.

Kemang Village merupakan proyek properti PT Lippo Karawaci Tbk yang terdiri dari 7 tower apartemen. Kapasitas totalnya sekitar 1.800 unit. Proyek ini dikembangkan dalam 2 tahap, yaitu tahap pertama 3 tower, dan tahap dua 4 tower.

"Dari 3 tower tahap satu yang sudah kita launch di 2007, pre-salesnya mendekati Rp 1 triliun," ujar Jopy.

Untuk tahap dua, rencananya tower pertama akan diluncurkan di akhir Februari 2008.

"Tower dua dan tiga di akhir kuartal II dan III. Tower terakhir akan di-launch tahun 2009," ujar Jopy.

Nilai investasi proyek Kemang Village diperkirakan sebesar US$ 880 juta, atau setara dengan Rp 8,1 triliun. Melalui pre-sales di 2007 senilai Rp 1 triliun dan target pre-sales di 2008 sebesar Rp 1 triliun, hingga akhir 2008, Lippo Karawaci akan memperoleh kontribusi pre-sales sebesar Rp 2 triliun.

Bank Lippo Gandeng 8 Mitra Strategis

12 Maret 2008
detikfinance

Jakarta - PT Bank Lippo Tbk menggandeng 8 mitra strategis untuk program pembiayaan dan mendukung pertumbuhan usaha mitra strategisnya.

Ke-8 mitra strategis Bank Lippo ini adalah PT Sophie Martin, PT Optik Tunggal, PT Inbisco Niagatama (Grup Mayora), PT Total Bangun Persada, PT Bumi Serpong Damai, PT United Tractors, BPR Modern Express, dan BPR Langgeng Sewu Artha.

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) dilakukan di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (12/3/2008).

Dengan penandatanganan MoU ini, Bank Lippo akan melakukan program pembiayaan yang dikemas sesuai dengan kebutuhan masing-masing mitra strategis demi mendukung pertumbuhan usahanya.

"Bank Lippo berharap dapat menjadi mitra dalam melayani para nasabahnya dari industri hulu hingga hilir. Semoga kerja sama ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada seluruh jaringan usaha yang terkait dengan para mitra strategis kami maupun bagi masyarakat luas," kata Direktur Bank Lippo, Tjindrasa Ng dalam siaran persnya.

Kerjasama ini juga merupakan terobosan dalam mempercepat pertumbuhan portofolio kredit UKM Bank Lippo. Melalui program pembiayaan ini, Bank Lippo terus berperan aktif dalam memaksimalkan tanggung jawab intermediasinya untuk mendukung perekonomian Indonesia dan membantu usaha pemerintah dalam meningkatkan perkembangan sektor riil.

Belanja Kartu Kredit Mandiri Ditargetkan Tumbuh 70%

6 Februari 2008
detikfinance

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menargetkan pertumbuhan belanja kartu kredit sebesar 70% di 2008. Salah satunya didorong oleh kerjasama penerbitan kartu kredit co-branding dengan Hypermart, anak usaha PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

"Kerjasama dengan Hypermart akan mengkontribusikan 1/3 dari target pertumbuhan penjualan kartu kredit Mandiri. Tahun ini target kita tumbuh 70%," ujar Managing Director Consumer Finance BMRI, Omar S Anwar, usai penandatangan MoU dengan MPPA di Plaza Mandiri, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (6/2/2008).

Pada tahun 2007, jumlah pengguna kartu kredit BMRI sebanyak 1,1 juta orang, dengan total volume penjualannya sebesar Rp 5,05 triliun.

"Untuk 2008, target pertumbuhan jumlah pengguna kartu kredit kita sebanyak 330 ribu, dengan pertumbuhan volume penjualan sebesar 70%, sehingga menjadi Rp 8,5 triliun," tutur Omar.

Melalui kerjasama penerbitan kartu kredit co-branding dengan Hypermart, BMRI menargetkan pertumbuhan jumlah kartu kredit sebesar 100 ribu kartu.

"Target kartu kredit co-branding kita dengan Hypermart sebanyak 100 ribu kartu untuk tahun pertama. Itu setara dengan 1/3 target pertumbuhan jumlah kartu kredit kita tahun ini," ulas Omar.

Omar menjelaskan, tingkat pembelanjaan kartu kredit BMRI paling besar adalah di supermarket, kemudian departemen store.

"Sekitar 35% di supermarket, dan 15% di departemen store. Sementara pengguna kartu Matahari ada 4,5 juta orang. Jadi ini kerjasama yang saling menguntungkan," ujar Omar.

Kontribusi kerjasama ini diharapkan mampu mencapai minimal Rp 600 miliar. "Jika minimal pengguna kartu belanja di Hypermart sebesar Rp 500 ribu/bulan dikalikan dengan 12 bulan, dikalikan dengan 100 ribu target pengguna kartu, maka minimal volume belanjanya bisa mencapai Rp 600 miliar," ujar Omar

BCA Siapkan Rp 200 Miliar untuk Akuisisi 2 Bank Syariah

detikfinance
Rabu, 12/03/2008 20:23 WIB

Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyiapkan dana Rp 200 miliar untuk mengakuisisi 2 bank syariah pada triwulan II-2008. Rencana tersebut untuk memuluskan langkah BCA membuka unit syariah. "Dana yang kita siapkan sebesar Rp 200 miliar untuk akuisisi 2 bank syariah. Proses akuisisi rencananya akan dilakukan pada triwulan II-2008," ungkap Wakil Direktur Utama BCA, Jahja S, usai jumpa pers di Wisma BCA, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (12/3/2008). Rencana BCA melakukan akuisisi beberapa bank sudah berlangsung sejak tahun 2007 lalu. Namun saat itu, BCA belum memiliki rencana untuk membuka unit syariah. "Realisasi rencana akuisisi tersebut di tahun 2008 ini, adalah mengakuisisi 2 bank syariah untuk membuka unit syariah BCA," ujar Jahja.

Bank Permata dan ACC Sinergi Bisnis

12 Maret 2008
Kompas

Bank Permata dan Astra Credit Companies (ACC) melakukan perjanjian kerja sama pengembangan layanan host to host pembayaran angsuran ACC secara langsung dan seketika (on line real time). Penandatanganan dilakukan Direktur Wholesale Banking Bank Permata Ongki W Dana dan Chief Operation Officer ACC Hendra Sugiharto kemarin di Jakarta. Melalui layanan host to host ini, ACC, salah satu perusahaan pembiayaan terbesar di Indonesia, memudahkan pelanggannya, sekitar 200.000 orang, melakukan transaksi pembayaran angsuran menggunakan beragam kanal transaksi elektronik Bank Permata. Selain menggunakan Permata e-banking, pelanggan ACC juga dapat bertransaksi secara online di 256 cabang konvensional dan 7 cabang Syariah Bank Permata yang tersebar di Indonesia. (FAJ)

Tuesday, March 11, 2008

Bank Danamon terus ekspansi syariah

13 Februari 2008
Bisnis.com

JAKARTA : PT Bank Danamon Indonesia Tbk resmikan cabang syariah Danamon baru di Jl. Merdeka, Bandung, dan tujuh lokasi layanan office channeling Syariah di wilayah Jabar.


Layanan office channeling ini akan memberikan pilihan dan kemudahan para nasabah untuk mengakses dan memenuhi kebutuhan layanan perbankan syariah melalui cabang-cabang konvensional Danamon.

Hendarin, Direktur Danamon Syariah, mengatakan adanya minat dan kebutuhan masyarakat yang besar akan produk dan layanan perbankan syariah di Jawa Barat.

"Bandung sebagai pintu gerbang provinsi ini dan juga kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi serta populasi penduduk yang cukup besar, merupakan strategis bagi Danamon Syariah untuk melayani besarnya potensi yang ada," ujarnya dalam pernyataannya hari ini.

Kantor cabang Danamon Syariah yang baru berlokasi di area strategis di pusat kegiatan perdagangan dan perekonomian Bandung di Jl. Merdeka No. 40, lokasi yang sama dengan Bank Danamon Kantor Wilayah 2 Jawa Barat.

Sementara itu tujuh lokasi cabang office channeling syariah berada di titik-titik pusat perdagangan dan pertokoan di Buah Batu, Setiabudi, Ahmad Yani, Merdeka, Juanda, Kopo Sayati, dan Kopo 26.

Monday, March 10, 2008

Perbankan perlu ubah paradigma NIM ke fee based income

4 Maret 2008

Bisnis.com


JAKARTA: Industri perbankan dalam negeri sudah waktunya mengubah paradigma pendapatan dari bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi pemasukan yang didapat dari layanan jasa atau fee base income. Pasalnya sejumlah korporasi publik saat ini sudah mulai giat membidik pembiayaan dari penerbitan obligasi. Hal itu jika tidak disikapi dalam lima tahun ke depan pendapatan dari kredit perbankan bakal tergerus. Kepala Ekonom BNI A. Tony Prasetiantono mengatakan perbankan luar negeri sudah memposisikan fee base income sebagai pendapatan utama dan NIM merupakan minoritas pemasukan. "Porsi fee base income bank luar negeri bisa sampai 80%-90%, tapi di kita baru 13%. Itu rata-rata nasional, nah ini yang harus dirubah," ujarnya dalam diskusi perbankan dan monoter Indonesia di Jakarta, hari ini. Menurut dia, masih tingginya NIM dalam mendongkrak pemasukan bank dalam negeri karena belum maksimalnya terobosan produk layanan jasa keuangan seperti ATM, pembayaran elektronik dan lainnya. Selain itu, lanjutnya, budaya di Indonesia selama ini penarikan uang di ATM tidak biasa dikenakan biaya. Padahal bank memberikan fasilitas tersebut mengeluarkan biaya investasi. "Kalau di luar negeri meski bank sendiri [bank pemilik ATM] tetap kena cash, tapi di kita belum biasa. Bisa-bisa bank lari ke bank lain yang tak kena biaya," ujarnya. Namun, lanjutnya industri perbankan bisa mulai melirik sektor lain yang bisa mendatangkan pemasukan baru bagi perusahaan, karena kalau tetap dipertahankan pendapatan bank bisa tergerus karena sejumlah korporasi saat ini banyak yang memilih pembiayaan obligasi. (dj)

Pacu Kredit lewat Aliansi

29 Februari 2008

Indo Pos

SURABAYA - Tren penurunan suku bunga kredit membuat perbankan makin ekspansif menyalurkan dana. Selain menyediakan produk sesuai kebutuhan nasabah, strategi perbankan untuk memacu kredit adalah menjalin aliansi dengan berbagai institusi. PT Bank Century Tbk, misalnya, melakukan kerja sama dengan sejumlah instansi dalam menyalurkan kreditnya, terutama kredit ritel dan konsumsi. "Kami merangkul instansi pemerintah maupun swasta yang memiliki customer base kuat serta jaringan distribusi luas," ujar Lila Gondokusumo, marketing director Bank Century, setelah pembukaan kantor cabang Panglima Sudirman, Surabaya, kemarin (28/2). Dia menyebut, PT Pos Indonesia, sejumlah perusahaan pembiayaan (multifinance), dan koperasi besar di daerah menjadi mitra Bank Century. "Kami juga baru saja membentuk divisi consumer loan yang khusus menangani sektor itu," katanya. Bank hasil merger antara Bank CIC Internasional dengan Bank Danpac dan Bank Pikko itu tahun ini menargetkan peningkatan kredit hingga 20 persen dari total outstanding 2007 sebesar Rp 3,56 triliun. Mimien Prasetiyo, branch manager Bank Century Panglima Sudirman, mengungkapkan bahwa saat ini rasio kredit korporasi dan ritelnya di Surabaya masih berimbang (fifty-fifty). Ke depan, dia akan menggarap lebih serius kredit sektor ritel, terutama perdagangan. (kia/dwi)

Bank Hana - Pemegang saham akan tambah modal menjadi Rp300 miliar

Bank Hana salurkan 50% kredit ke UKM
29 Februari 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Hana Bank asal Korea Selatan-yang mengakuisisi PT Bank Bintang Manunggal-pada tahun lalu akan memfokuskan penyaluran kredit pada sektor usaha kecil dan menengah (UKM) lebih dari 50% dari total kredit pada 2008 dengan mengubah namanya menjadi PT Bank Hana. Michael Lee, Chief Executive Officer Bank Hana, mengatakan saat ini perubahan nama menjadi Bank Hana tengah diproses Bank Indonesia. Pada tahun ini, bank itu akan memfokuskan bisnisnya pada penyaluran kredit di sektor produktif, yaitu pengusaha kecil dan menengah. "Plafon kami lebih dari 50% untuk UKM. Terminologinya adalah Bank Hana merupakan microbanking. Bank Indonesia juga meminta kami untuk menyalurkan kredit di sektor produktif, bukan konsumtif," ujar Lee di sela-sela pembukaan cabang pertama Bank Hana, kemarin. Namun Lee menolak memberikan angka detail berapa jumlah kredit yang disalurkan pada tahun ini. Dia menuturkan selain di sektor UKM, bank tersebut juga akan memberikan fasilitas kepada perusahaan asal Korsel yang berinvestasi di Indonesia. Akuisisi Bank Bintang Manunggal dilakukan Hana Bank yang total sahamnya dimiliki Hana Financial Group Inc di Korsel pada Oktober 2007. Saham Bank Hana di Indonesia dimiliki oleh Hana Bank (60,97%), International Finance Corporation (19,03%), PT Trisetijo Manunggal Utama (10%) dan Bambang Setijo (10%). Saat ini modal yang dimiliki adalah Rp153,6 miliar. Dia menjelaskan Indonesia adalah negara berkembang yang memiliki banyak usaha kecil yang tengah tumbuh. Sehingga para pengusaha tersebut, lanjut Lee, memerlukan dana guna mengembangkan bisnisnya. Lee mengungkapkan bank itu juga memberikan sokongan pada perusahaan asal Korea yang banyak bergerak di sektor elektronik seperti Samsung dan LG Elektronik. Di sektor usaha kecil lebih pada manufaktur. Terkait dengan modal, dia mengungkapkan pemegang saham berencana untuk menggandakan modalnya menjadi Rp300 miliar namun tidak menyebutkan secara detail kapan hal tersebut dilakukan. "Ini masih proses dengan Bank Indonesia. Saya tidak dapat memberitahu Anda," ujarnya. Menurut Lee, Bank Hana ingin masuk ke dalam top 20 bank di Indonesia pada 2012. Tujuan jangka panjang lainnya juga adalah membangun cabang hingga mencapai 240 unit serta memaksimalkan jaringan kerja Hana Financial Group.

Indonesia menarik

Jong Yeol Kim, CEO Hana Bank, mengatakan investasi di Indonesia sangat me-narik karena sejumlah faktor di antaranya peningkatan gross domestic product (GDP), dan politik yang stabil. Selain itu, Indonesia juga dianggap wilayah yang dekat dengan Korea apalagi banyaknya tenaga kerja Indonesia di negara tersebut. "Ini adalah tetangga yang dekat dan memiliki kepentingan besar. Ini juga hubungan pertemanan dari dua negara." Bank Hana kini memiliki lima jaringan dan disokong oleh 98 staf. Hingga akhir tahun lalu, total asetnya mencapai Rp300,3 miliar, return on asset adalah 2,26% serta return on equity sebesar 7,90%. Lembaga keuangan itu juga berencana membangun jaringannya meliputi China dan Vietnam serta menjadi institusi terdepan pada 2015. Secara kronologi, pada 18 Oktober 2007, Hana Bank, IFC dan pemegang saham yang ada mencapai kesepakatan definitif termasuk share purchase agreement. Selanjutnya 10 Desember 2007, Hana Bank mengantongi izin dari Bank Indonesia untuk menjadi pemegang saham pengendali di PT Bank Hana. Pada 14 Desember 2007, Hana mengakuisisi saham PT Bank Hana dan meningkatkan posisi modal menjadi Rp150 miliar. Perseroan menargetkan pada 2012 Bank Hana mampu menjadi pemain utama di industri perbankan nasional, juga mampu membentuk jaringan dengan 240 cabang serta memaksimalkan global network dari Hana Financial Group. (M. Yunan Hilmi)

Sunday, March 9, 2008

BNI Syariah akan Jadi Bank Korporasi

Sabtu, 08 Maret 2008
Republika

JAKARTA -- BNI akan melepas (spin off) unit usaha syariahnya pada semester kedua tahun ini dan menggabungkannya dengan bank syariah baru yang segera didirikan BNI bersama dengan Islamic Corporation for the Development of Private Sector (ICD). Bank syariah baru itu akan fokus kepada perbankan korporasi (corporate banking).

Direktur Internasional dan Treasury BNI, Bien Subiantoro, mengatakan, bank syariah ini akan menjadi jembatan bagi investor Timur Tengah yang akan menanamkan modal di berbagai proyek di Indonesia. ''Bank syariah BNI akan masuk segmen korporasi. Jadi nanti investor Timur Tengah akan punya kendaraan. Selama ini investor Timur Tengah belum punya kendaraan bagus untuk masuk ke Indonesia,'' kata Bien.

Pada awal April mendatang, BNI akan melakukan roadshow menawarkan bank syariah baru tersebut. Di kawasan pertama yang akan dikunjungi,-- Timur Tengah, BNI akan menawarkan berbagai sindikasi dengan bank syariah baru ini kepada para investor. Demikian pula kesempatan investasi pada berbagai proyek infrastruktur di Indonesia.

ICD merupakan anak perusahaan dari Islamic Development Bank. Menurut Bien, kerja sama BNI dengan ICD akan menguntungkan BNI guna membuka jaringan ke Timur Tengah yang sedang mengalami booming harga minyak. ''Selama ini bank sentral di Timur Tengah cenderung tertutup. ICD bisa membantu BNI bila ingin membuka cabang di sana ataupun untuk remittance,'' kata Bien.

Sesuai peraturan Bank Indonesia, bank syariah baru minimal memiliki modal awal sebesar Rp 1 triliun. BNI dan ICD sudah berkomitmen untuk menempatkan dana minimal 100 juta dolar AS. Menurut Bien, investor di bank syariah baru itu sendiri bisa lebih dari empat pihak. Selain BNI dan ICD, saat ini juga ada Madina Ivestment, perusahaan investasi dari Arab Saudi.

''ICD dan Madina sudah memberikan komitmen modal sampai 350 juta dolar AS,'' kata Bien. BNI sendiri kemungkinan akan menambah modal lebih dari 50 juta dolar AS, ditambah valuasi aset BNI Syariah sendiri yang kini sudah memiliki 57 cabang.

Dengan modal yang akan disetor BNI, ujar Bien, BNI Syariah akan menjadi bank syariah dengan modal terbesar di Indonesia.