Showing posts with label Produk. Show all posts
Showing posts with label Produk. Show all posts

Friday, March 14, 2008

BCA kembali gelar Gebyar Tahapan

14 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: PT Bank Central Asia (BCA) kembali menggelar program Gebyar Tahapan BCA periode Maret-Juni 2008. Program tersebut kali ini memasuki tahun ke-19. General Manager Consumer Banking Stephen Listyo mengungkapkan para nasabah yang mengikuti tahapan kali ini adalah nasabah yang memiliki saldo rata-rata Rp5 juta per bulan. Setiap orang akan memiliki satu poin dengan saldo minimal tersebut. "Atas kepercayaannya kepada nasabah, para nasabah tidak hanya mendapat fasilitas pelayanan perbankan yang premium, tetapi juga berhak untuk mendapatkan kesempatan hadiah premium," ujar Stephen pekan ini. Hadiah utama yang disediakan kali ini adalah satu unit Lexus LS 460, sedangkan lainnya adalah belasan Lexus IS 300 dan ribuan televisi. (Bisnis/asa)

Monday, March 10, 2008

Murabahah dominasi pembiayaan syariahB

10 Maret 2008
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Skema penyaluran perbankan syariah didominasi oleh piutang murabahah sepanjang tahun lalu menyusul tingginya minat masyarakat. Presdir Karim Consulting Adiwarman Karim mengatakan pembiayaan murabahah merupakan produk yang mirip dengan kredit konvensional pada bank umum. Selain itu, masyarakat memilih produk itu karena memberikan kenyamanan saat bertransaksi. "Perbankan syariah masih pada tahap awal, sehingga masyarakat masih mencari produk yang hampir mirip dengan konvensional. Piutang murabahah juga dibayar setiap bulan melalui cicilan," ujarnya saat dihubungi Bisnis di Jakarta, pekan lalu. Murabahah merupakan pembiayaan bank syariah melalui sistem jual beli untuk barang atau jasa dengan kesepakatan keuntungan dan jangka waktu tertentu. Mekanisme ini bisa digunakan untuk kebutuhan modal kerja atau kepemilikan sebuah barang dengan cara dicicil.

Data Bank Indonesia menyebutkan murabahah sepanjang tahun lalu mendominasi pembiayaan perbankan syariah yaitu mencapai Rp16,55 triliun atau 59,24% dari total pembiayaan 2007 Rp27,94 triliun. Selanjutnya adalah pembiayaan mudharabah (bagi hasil) yaitu sebesar Rp5,6 triliun atau 19,96% serta pembiayaan musyarakah (penyertaan) yaitu Rp4,40 triliun atau 15,77%. Produk pembiayaan yang relatif kecil adalah piutang istishna yaitu pembiayaan yang biasanya digunakan untuk kebutuhan konstruksi dan barang manufaktur. BI mencatat sepanjang tahun lalu hanya mencapai Rp350 miliar atau sekitar 1,26%. Sementara itu, untuk produk piutang salam, perbankan syariah tidak melakukan pembiayaan sama sekali. Menurut Adiwarman, produk itu biasanya dilakukan untuk pembiayaan di sektor pertanian. "Secara umum, bank konvensional juga masih relatif kecil di sektor pertanian. Di perbankan syariah masih belum ada yang membiayai hasil pertanian, atau tanaman yang belum siap dipanen," tandasnya.

Perlu edukasi

Adiwarman menuturkan kondisi di Indonesia jauh berbeda dengan Malaysia terkait dengan aktivitas perbankan syariah. Menurut dia, hampir 100% transaksi pembiayaan syariah menggunakan piutang murabahah. Hal tersebut, lanjutnya, dilakukan untuk menggenjot aset perbankan syariah di negeri tersebut. Untuk Indonesia, ungkapnya, industri masih memberikan edukasi lebih dulu kepada masyarakat dalam produk-produk bank syariah. Sebelumnya, BI menyatakan akan memberikan insentif kepada bank syariah guna mendorong percepatan proses akselerasi mencapai pertumbuhan aset 5% dari total aset perbankan pada tahun ini. Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad mengatakan insentif tersebut akan dipersiapkan otoritas moneter. "Apa dan bagaimana bentuk insentifnya, masih dikaji." Dia menjelaskan pemberian insentif itu sejalan dengan dukungan bank sentral terhadap pengembangan perbankan syariah di Tanah Air. Selain soal insentif, dia juga menyinggung mengenai produk perbankan syariah yang masih minim sehingga tidak sejalan dengan tingginya permintaan pangsa perbankan syariah yang pesat. (anugerah.perkasa@bisnis.co.id)


Mandiri Minta Tambahan Kuota Penjualan ORI 004

29 Februari 2008
detikfinance

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengajukan permintaan tambahan kuota untuk penjualan obligasi ritel Indonesia atau ORI seri 004. Jatah ORI Mandiri sebesar Rp 1,5 triliun telah ludes terjual. Dalam waktu empat hari sejak ORI 004 dipasarkan pada Senin 25 Februari 2008, Bank Mandiri telah berhasil menjual lebih dari Rp 1,5 triliun. Demikian diungkapkan Senior Vice President Wealth Managament Group Head Bank Mandiri, Heri Gunardi dalam pernyataan lewat SMS kepada detikFinance, Jumat (29/2/2008). Heri menjelaskan, penjualan ORI 004 yang mencapai Rp 1,5 triliun ini berarti telah melewati penjualan ORI seri 001 sampai 003 sebelumnya. Pada ORI 003 Bank Mandiri berhasil membukukan Rp 1,33 triliun dengan market share 14,53% dari total penjualan nasional sebesar Rp 9,4 triliun. Sedangkan untuk ORI 001 berhasil mencapai penjualan Rp 912 miliar dengan market share 27,78% dari total penjualan Rp 3,28 triliun. Pada ORI 002 membukukan Rp 866 miliar dengan market share 13,9% dari total penjualan nasional Rp 6,23 triliun. Menurut Heri, strategi penjualan ORI 004 oleh Mandiri dilakukan di 10 kantor wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia yang disesuaikan dengan prospeknya. Serta memanfaatkan 956 jaringan kantor cabang. Kantor wilayah 5 Jakarta Sudirman menempati urutan pertama pemasaran ORI 004 dengan berhasil menjual 25%, dan kantor wilayah 4 Jakarta Thamrin menempati urutan kedua dengan 20,9%. Sedangkan kanwil 3 Jakarta Kota sebesar 15,6% dari keseluruhan penjualan di hari keempat. Kantor wilayah lainnya memberikan kontribusi rata-rata 5,5%. Penjualan ORI 004 dijadwalkan akan ditutup pada 6 Maret 2008. Berdasarkan hal itu Bank Mandiri masih mengharapkan adanya tambahan kuota dari pemerintah. Mandiri sebelumnya juga telah dinyatakan sebagai agen ORI terbaik di tahun 2007. "Kami telah ajukan surat tambahan kuota pada Kamis 28 Februari 2008. Tentu saja kami sangat mengharapkan adanya tambahan kuota tersebut dalam waktu dekat ini," harap Heri. (ir/qom)

Sunday, March 9, 2008

BRI Luncurkan BritAma Syariah

19 Januari 2008

www.bri.co.id

Bersamaan dengan diadakannya Festival Ekonomi Syariah (FES) di JCC, Bank BRI Syariah meluncurkan produk simpanan berkartu dengan nama Tabungan BritAma Syariah, peluncuran ini dilakukan oleh Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto dan Ramzi A. Zuhdi, Direktur Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia.

Sebagai bank yang telah berpengalaman dan termasuk bank yang cukup diperhitungkan dalam industri perbankan, keputusan BRI untuk memasuki bisnis perbankan berdasarkan prinsip syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah BRI (selanjutnya disebut BRI Syariah) sejak tanggal 7 Desember 2001 merupakan langkah untuk mendapatkan “competitive advantages” atas produk perbankan Syariah yang berazaskan keadilan dan keterbukaan, sehingga mempunyai tingkat akuntabilitas yang tinggi.

Keputusan BRI tersebut bukan saja bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan nasabahnya yang selalu tumbuh dan berkembang, tetapi juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab BRI untuk memajukan kondisi perekonomian rakyat. Tanggung jawab untuk memajukan perekonomian rakyat ini sejalan dengan semangat Patih Banyumas; Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada saat mendirikan BRI pada tahun 1895, yaitu untuk dapat memberikan pinjaman ringan guna menepis jeratan lintah darat, diilhami oleh pengalamannya dalam mengelola pinjaman yang bersumber dari kas masjid.

Sampai dengan akhir tahun 2007 BRI Syariah telah memiliki 27 Kantor Cabang BRI Syariah dan 18 Kantor Cabang Pembantu BRI Syariah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan fokus dari pengembangan outlet/jaringan kerja BRI Syariah di masa depan adalah dengan cara sinergi jaringan dengan BRI Konvensional melalui pola layanan office channeling di seluruh unit kerja operasional BRI yang potensial untuk dibuka bisnis Syariah.

Pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia 5 tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata 59%. Pertumbuhan tersebut masih jauh di atas pertumbuhan industri perbankan konvensional yang tidak melebihi angka 5% per tahun.

Berdasarkan statistik perbankan Syariah posisi bulan November 2007, Perbankan Syariah telah mampu menyalurkan pembiayaan sebesar Rp. 26,548 trilyun, sedangkan dana pihak ketiga yang dihimpun sebesar Rp. 25,658 trilyun, sehingga Financing to Deposit Ratio (FDR) mencapai sebesar 103,47 %. Untuk Unit-unit Usaha Syariah, rasio FDR jauh lebih tinggi, yaitu sebesar 126 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa Perbankan Syariah telah bekerja keras untuk menggerakkan sektor riil.

Dalam rangka meningkatkan dana pihak ketiga untuk mensuport penyediaan dana pembiayaan, Bank Rakyat Indonesia melakukan soft launching Tabungan Britama Syariah. Tabungan Britama Syariah adalah produk tabungan yang dikelola dengan prinsip Wadiah. Tabungan Britama Syariah dilengkapi dengan Kartu ATM, yang dapat dipergunakan di lebih dari 1.000 ATM BRI di seluruh Indonesia. Tabungan Britama Syariah akan terus dikembangkan agar memiliki fasilitas yang setara dengan Tabungan Britama yang telah dimiliki BRI, namun dikelola dengan prinsip Syariah, dan dapat dilayani di seluruh unit kerja BRI yang berjumlah lebih dari 4.000 kantor. Perbedaan utama antara Tabungan Britama Syariah dengan Tabungan Britama adalah Tabungan Britama Syariah dikelola berdasar prinsip syariah, sehingga nasabah memiliki banyak pilihan untuk alokasi simpanannya.


BNI Siapkan US$ 2,5 juta Untuk Konversi Kartu ke Chip

detikfinance
Senin, 25/02/2008 12:40 WIB

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menyiapkan dana US$ 2-2,5 juta untuk program konversi kartu kredit dari format magnet ke format chip. Tahun ini BNI menargetkan hingga 600 ribu kartu kredit format chip.

"Hingga akhir tahun 2009 kita targetkan proses konversi ke chip bisa selesai," kata General Manager BNI Sahala Oloan Manik, di Gedung BNI, Senin (25/2/2008).

Sahala mengatakan biaya konversi ke chip memang lebih mahal, hingga tujuh kali lipat dari kartu magnet. Jika kartu magnet biasa hanya Rp 2.000, namun untuk satu kartu chip mencapai Rp 14.000.

Mengenai langkah ini, BNI sudah melakukan langkah antisipasi untuk mengamankan data pemilik kartu terkait peluang pembobolan adanya konversi kartu kredit.

"Kalau bicara pemalsuan kartu kredit tahun lalu memang ada tapi tidak signifikan, ini bukan terkait konversi ke chip. Kita akan antisipasi dengan sistem early detection unit (EDU)," katanya.

Menurut Sahala, dengan sistem seperti ini BNI bisa memantau sejauh mana tingkat kewajaran dari setiap transaksi nasabah termasuk lokasi transaksi.

"Lokasi dan jumlah transaksi bisa menjadi warning terhadap kewajaran transaksi," katanya.

"Hingga kini sudah mencapai 3% hingga 4% saja yang sudah beralih ke chip sejak awal tahun ini, belum ada kerugian," tambahnya.

Tahun ini diperkirakan akan ada konversi ke chip hingga 600.000 unit, selebihnya akan dilakukan hingga Desember 2009.

Sementara Kakanwil VIII BCA Darmawan S mengatakan, dalam setiap peralihan sistem termasuk dari sistem magnet ke chip BCA sudah mengantisipasi berbagai risikonya.

"Dalam setiap peralihan sistem risiko yang seperti itu sudah kita siapkan cost-nya dalam operasional risk. Jadi kita sudah antisipasi," katanya.

BNI Bidik Pertumbuhan 40% Transaksi Kartu Kredit

detikfinance
Senin, 25/02/2008 13:34 WIB

Jakarta - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) targetkan penambahan transaksi volume kartu kredit hingga 40% dari total pencapaian tahun lalu yang mencapai Rp 7 triliun.

Demikian disampaikan oleh General Manager Card Centre BNI Sahala Oloan Manik, di gedung BNI, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (25/2/2008).

"Kita harapkan ada pertumbuhan transaksi volume hingga 30% sampai 40% pada tahun ini," ujarnya.

Menurut Sahala, pihaknya optimis hal ini akan tercapai dengan adanya target penambahan 400 ribu kartu kredit pada tahun ini. Ditambah lagi peluncuran BNI Visa Olimpiade Beijing China yang diluncurkan terbatas semenjak 9 Desember tahun lalu.

Untuk mendukung langkah ini hingga akhir tahun 2008 BNI akan menambahkan 25.000 merchant sehingga total sampai akhir 2008 mencapai 50.000 merchant di dalam maupun di luar negeri termasuk untuk menyiapkan keperluan BNI visa olimpiade.

Menurut VP Marketing and Sales BNI Anggoro Eko Cahyo, selama beberapa tahun ini telah terjadi pergeseran kelompok nasabah kartu kredit, yaitu dari nasabah yang umumnya pegawai BUMN melebar ke nasabah pegawai swasta.

"Tahun lalu dan tahun ini diperkirakan penggunaan untuk keperluan travel mengalami pertumbuhan baik," imbuhnya.

Hingga kini BNI telah memiliki 972 cabang yang berada di Indonesia dan lima cabang di luar negeri yaitu di Singapura, Hongkong, Tokyo, London dan New York.

Total nasabah BNI hingga akhir tahun 2007 mencapai kurang lebih hingga 11 juta nasabah, terdiri dari 9 juta penabung, dan 1,3 juta nasabah kartu kredit dan selebihnya jenis kredit konsumsi seperti KPR dan lain-lain.

Saturday, March 8, 2008

Bank Niaga Bidik Rp 500 Miliar dari Deposit Dynamic

detikfinance
Jumat, 01/02/2008 15:48 WIB

Jakarta - Bank Niaga menargetkan pengumpulan dana hingga Rp 500 miliar dengan peluncuran produk deposit dalam mata uang rupiah yang dinamakan Dynamic Duo Star-Market Linked Deposit.

Produk deposit ini memberikan 100 persen capital guaranteed terhadap nilai pokok transaksi pada saat jatuh tempo dengan pengembalian tahunan yang tak terbatas.

Produk Dynamic Duo Star ditawarkan mulai 1 Februari hingga 22 Februari 2008 dengan nilai pokok transaksi (simpanan) minimum Rp 50 juta.

"Target kami dalam masa penawaran itu dapat terkumpul dana Rp 500 miliar," ujar Wakil Presiden Direktur PT Bank Niaga Tbk D. James Rompas dalam peluncuran produk tersebut di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Jumat (1/2/2008).

Menurut Rompas, Bank Niaga akan terus memberikan penawaran kepada para nasabah berbagai produk yang memiliki akses ke global market dengan tingkat risiko yang lebih terjaga melalui produk ini. Karena produk ini memiliki potensi tingkat pengembalian yang lebih tinggi tanpa biaya apapun juga.

Dikatakannya bahwa produk baru ini memiliki strategi underlying asset yang dikelompokkan ke dalam 2 indeks yang dinamis yaitu indeks CIMB Asia FX Income dan Indeks CIMB Transatlantic IR Momentum. "Dengan fitur ini memungkinkan investor memperoleh pengembalian secara periodik (tahunan) yang maksimal," ujar Rompas.